THE SURRENDER OF LOVE (1)

Written by on August 3, 2020

Auhor: @rimahutabarat

PROLOG

Apa yang harus aku lakukan padanya? Gadis berkulit bersih itu telah menungguku di sana. Di kamar tidurku. Dengan rambut sebahu yang panjang terurai, serta harum tubuhnya yang sejak tadi sanggup menghilangkan akal sehatku. Kuteguk segelas air yang disediakannya untukku di meja kerja. Dia, Kinara Humaira, yang kemarin kusebut namanya dalam lafal ijab kabul.

‘Bim, You gotta do something with her. It’s your first night.’ Sesuatu berbisik di kepalaku.

Yes I know. It’s our first night. It’s my and her first night.

Kinara. Perempuan yang secara tiba-tiba menjadi istriku. Yang aku dengan sadar melamar dan menikahinya. Tapi mengapa justru sekarang aku yang bingung harus bagaimana dengannya.

Kututup laptop dan menarik napas panjang. Sudah setengah jam sejak Kinara berada di kamarku. Tak mungkin aku beralasan. Aku harus masuk menemuinya.

What am I gonna do with you, Kinara?

——

Part 1

Matahari petang bersinar pekat . Hari ini aku kebagian jadwal mengajar kelas sore di Kursus Inggris tempat aku bekerja. Sebuah lembaga yang awalnya aku dan Andita dirikan di garasi rumahnya di semester pertama saat kami melanjutkan kuliah di Sastra Inggris Universitas Jambi. Alhamdulillah, usaha ini semakin berkembang sehingga akhirnya kami mampu menyewa sebuah rumah kecil di pinggir jalan untuk mengembangkan kursus ini.

Aku baru hendak beranjak pulang saat sebuah suara memanggilku.

“Kak Kin!” Aku sudah berada di atas motor dan mesinnya juga sudah menyala. Kevin, lelaki kecil itu tersenyum saat aku menoleh.

“Kenapa,Vin?”

“Ngg … ini Kak,” Kevin tersipu sambil mencuri pandang padaku. Anak umur 12 tahun itu seperti terlihat bingung. “Besok kita les juga?” ia bertanya padaku.

Aku ingin tertawa mendengarnya. Tadi di kelas aku sudah mengumumkan bahwa jadwal les berubah menjadi Senin depan karena besok aku harus menemani Ibu pergi arisan keluarga.

“Diubah ke Senin depan, Vin” Aku kembali menjelaskan. Kevin mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Maaf, Kak. Tadi Kevin lagi ngobrol sama Ari, jadi nggak dengar pengumumannya,” ia beralasan.

“Baiklah, Vin. See you on Monday.”

Aku memakai helmku, dan Kevin masih berdiri di samping motor.

“Kak,” panggilnya membuatku menoleh lagi. “Kak Kinara cantik hari ini,” ujarnya malu-malu.

Sejenak aku terpana. Bercampur rasa lucu dan bingung di hatiku. Aku rasa ia sedang jatuh cinta padaku. Sebuah cinta monyet anak lelaki yang beranjak remaja.

“Thank you so much, Kevin. Jangan lupa dihafal homework yang Kakak kasih tadi ya.” Aku melambai padanya dan membawa motorku meluncur di jalanan Kolonel Abunjani.

Lalu lintas sore di daerah ini selalu padat. Para pengendara motor kerap berebutan agar bisa menempatkan kenderaan mereka paling depan di garis traffic light. Beberapa bahkan ada yang nekat menempuh jalur trotoar untuk mendahului deretan mobil .

Sambil menunggu lampu hijau menyala ingatanku kembali pada Kevin, membuatku merasa ingin tersenyum sendiri. Bukan pertama kali Kevin menemuiku setelah kelas selesai, mengambil kesempatan untuk berbincang singkat denganku secara pribadi. Kevin selalu menyelipkan kata-kata pujian untukku di akhir perbincangan kami. Ingin rasanya tersipu jika bukan Kevin, bocah umur 12 tahun itu yang mengungkapkannya. Ungkapan cinta dari seorang murid untuk guru Bahasa Inggrisnya yang berumur 22 tahun.

Lampu hijau menyala. Bunyi klakson ramai terdengar. Aku kembalikan konsentrasi untuk tetap berkendara di antara laju puluhan sepeda motor. Namun pikiranku masih melekat pada Kevin.

Kevin, andai bukan kamu yang mendekatiku seperti tadi. Andai itu seorang lelaki dewasa, pastinya aku tidak terlalu gusar harus menemani Ibu menghadiri arisan keluarga di rumah Tante Mila. Menghadapi pertanyaan yang itu-itu saja dari beliau, menanyakan kapan aku menikah menyusul Diana sepupuku itu.

Ah, Kevin. Jodoh memang susah ditebak. Sekarang ini, kujalani saja dulu seperti ini.

——-

“Lu balik ke mana hari ini?” pertanyaan itu membuyarkan lamunanku. Cepat kututup galeri di smartphone-ku agar Enggar tidak sempat melihat foto yang sedang kupandangi.

“Gue ke Bekasi, Gar.” Kuputar dudukku menghadapnya.

“Kirain Kalibata, gue mau nebeng.” Ia tersenyum meski agak kecewa.

“Motor lu kemana?” tanyaku.

“Bocor pas mau berangkat. Gue naik ojol tadi pagi.”

“Sorry, Gar. Gue udah janji ke Mama weekend ini nginep di Bekasi,” ucapku mengisyaratkan permohonan maaf.

“It’s okay,” tukas Enggar, melirik arloji di pergelangan tangannya. “Gue naik kereta aja, masih terkejar kok.”

Kupandangi Enggar yang buru-buru membenahi meja dan meraih ranselnya. Aku tiba-tiba teringat sebuah pekerjaan kami yang hampir mencapai tenggat waktu.

“Eh, konsep Pandana kapan kelar?” Aku mengingatkannya pada project pemotretan untuk sebuah perusahaan minuman kesehatan. Mba Arini sudah berkali-kali menelponku menanyakan perihal itu.

“Ini kerjaannya gue bawa balik. Biar Senin bisa presentasi ke mereka,” jawab Enggar seraya bangkit dan pamit padaku. Aku mengangguk tanda setuju.

“Gue balik dulu, Bim. Gue janji sama Gita makan malam di rumah hari ini.”

“Okay, Bro.” Aku mengangkat tangan membalas lambaian Enggar.

Kantor sudah sepi. Sepeninggalan Enggar, cuma ada Arifin, Desainer Grafis kami yang masih betah mengutak-atik gambar di layar komputernya. Kami hanya bertujuh di sini, dan seluruhnya laki-laki. Sebuah perusahaan kecil yang kurintis bersama Enggar berawal dari hobi kami di bidang multimedia sejak masuk SMA.

Sebenarnya dulu ada seorang perempuan berjiwa tangguh yang ikut mendirikan usaha ini. Bahkan inisial namanya pun masih terpampang di dinding kaca luar ruko ini.

B.E.M Photography & Design

Bima . Enggar . Malia

Namun karir di negara tetangga membuatnya memilih mempercayakan usaha ini kepadaku dan Enggar. Ia hanya balik enam bulan sekali.

Kulirik kotak name card yang terletak di atas meja. Aditya Bimasakti.

Begitu nama yang tertera di kartu namaku. Jika di rumah, mereka selalu memanggilku Bimbim. Setelah masuk SD baru lah beberapa teman dan guru mulai memanggilku dengan Aditya. Hanya beberapa sahabat dekat yang memanggilku dengan Bimbim. Termasuk Malia. Dia yang telah mengenalku sejak SMA dan sudah 10 tahun terakhir menjadi sahabatku.

Sahabat. Atau kekasih? Entahlah…

Kubuka lagi foto Malia yang tersimpan di memori smartphone-ku. Aku sungguh merindukannya. Tak pernah ada kejelasan hubungan diantara kami. Padahal umurku dan umurnya sudah mencapai usia menikah. Malia selalu mengelak jika pembicaraan mengarah kepada pernikahan. Aku juga tak bisa memaksa. Aku, dengan statusku yang entah siapa baginya. Dan entah mengapa juga aku masih bertahan dengan situasi ini.

——-

“Duduklah, Kin.” Ibu tersenyum dan menepuk sofa di sisi kanan beliau. Aku baru saja sampai setelah berjuang dengan macetnya jalanan Kota Jambi di saat sore. Kudapati Ayah, Ibu, dan Bang Khalif sedang berkumpul di halaman belakang seperti biasa. Bang Khalif selalu singgah ke rumah ini sehabis bekerja, sebelum pulang ke rumahnya yang sekarang. Yang tidak biasa adalah ekspresi di wajah mereka saat melihatku datang.

“Macet, Dek?” tanya Bang Khalif mencoba mencairkan kekakuan. Firasatku mengatakan bahwa ketiganya sedang membicarakan sesuatu tentangku, dan tiba-tiba kaget dengan kemunculanku.

“Lumayan padat di Sipin,” jawabku sambil menggantungkan helm di dinding khusus yang dibuat Ayah untukku, Bang Khalif dan Bang Khatab saudara kembarnya.

“Minum dulu tehnya, udah Ibu buatin dari tadi.” Ibu mengusap bahuku saat aku duduk di samping beliau. Kuteguk teh itu seraya memandang wajah Ayah. Sebagai anak bungsu, aku sangat dekat dengan Ayah. Hingga aku hapal benar raut wajah beliau yang mewakili suasana hatinya. Dan kali ini, sepertinya aku tak salah menduga. Ada hal sangat penting yang akan mereka sampaikan. Tentangku.

“Kinara,” akhirnya kudengar Ayah berbicara. “Umur kamu sudah 22 tahun Januari lalu.”

Pandanganku yang tadinya lekat di wajah Ayah, sekarang beralih pada tas yang ada di pangkuanku. Ayah benar, aku sudah mencapai umur perempuan dewasa. Sedikit banyaknya aku bisa menebak apa yang ada di pikiran Ayah. Mungkin beliau akan bertanya kapan aku akan segera menikah. Seperti pertanyaan-pertanyaan serupa yang sering aku dapati setiap menerima undangan pernikahan dari teman SMA atau teman kuliah.

“Kin, Ayah dan Ibu hendak mengenalkanmu pada seseorang.” Kali ini suara lembut ibu yang terdengar. Aku menengadah demi mendengar kalimat itu. Kupandangi wajah Ibu, Ayah, lalu Bang Khalif bergantian. Ini di luar dugaanku sebelumnya.

“Ayah akan menjodohkan Kin?” kutanyakan langsung yang terbersit di kepalaku. Bang Khalif yang sangat mengerti karakterku berusaha mengubah atmosfer yang mulai terasa menegang.

“Bukan menjodohkan, Kin. Hanya mempertemukan.” Bang Khalif menatapku dengan sorot matanya yang mengisyaratkan agar aku bisa mengontrol emosi jika sedang bicara dengan Ibu dan Ayah.

“Jika Kin tidak suka, Ayah dan Ibu tidak memaksa. Ini hanya bentuk ikhtiar kami untuk mencarikan pasangan hidup terbaik untuk kamu. ” Ibu dengan hati-hati menjelaskan padaku.

“Laki-laki ini adalah anak Almarhum Pak Gibran, sahabat Ayah saat beliau di Jambi dulu.” Ayah memberikan sedikit gambaran tentang seseorang itu.

“Ayah kenal baik dengan Pak Gibran. Ibu juga bersahabat dengan istri beliau. Pak Gibran itu atasan Ayah, namun beliau tidak pernah bersikap seperti atasan, lebih kepada sahabat,” Ayah melanjutkan. “Nanti biar Ibumu yang bercerita lebih lanjut. Ayah mau ke masjid.”

Ayah bangkit dan meninggalkanku bertiga dengan Ibu dan Bang Khalif.

“Bu ….” Aku menatap Ibu dengan sorot mata memohon. Jangan jodohkan aku. Biarlah aku mencari sendiri.

“Kin Sayang, Ibu sebenarnya tidak terlalu ambil pusing dengan kamu yang seperti ini. Namun kemarin, Ayah membicarakan hal itu kepada Ibu. Ayah bilang beliau ingin melihat kamu segera menikah.”

Aku mendengarkan Ibu dengan seksama. Ada perasaan haru saat Ibu mengatakan permintaan Ayah, karena hanya akulah anak perempuan beliau satu-satunya. Pasti ada keinginan agar sempat menikahkan langsung putrinya.

“Kin.” Kali ini Bang Khalif yang bicara. “Ayah kita sudah 60 tahun, sudah hampir mendekati umur Rasulullah.”

Aku mengerti. Hanya saja ini tidak seperti bayanganku sebelumnya. Aku berharap aku bisa bertemu sendiri dengan jodoh itu. Tanpa harus dikenalkan seperti ini.

“Ibu yakin Ayah sudah memikirkan hal ini dengan matang. Kamu hanya perlu bertemu, jika tidak berkenan, kami tidak akan memaksa.” Ibu menggenggam jemariku yang terasa dingin karena perasaanku yang tidak karuan.

“Ibu mau ke kamar dulu ya, Bang Khalif yang akan melanjutkan.”

Aku dan Bang Khalif hanya diam sampai Ibu berlalu. Ia memandangku dan mengisyaratkan agar aku bangkit mengikutinya.

“Yuk ke pondok,” ajaknya.

Kuikuti langkah Bang Khalif menuju pondok kecil di sudut halaman belakang yang sering kami gunakan untuk bermain ketika kanak-kanak dulu. Aku lebih dekat dengan Bang Khalif dibandingkan Bang Khatab kembarnya. Usia kami terpaut 7 tahun. Bang Khalif juga dulu yang sering membelaku jika diganggu anak-anak lelaki sepulang sekolah.

“Bang, Kin nggak mau dikenalin. Nggak mau dijodohin.” Aku merengek padanya saat kami sudah duduk berdua di pondok itu. Ia cuma tersenyum.

“Sebenarnya kalian sudah saling mengenal.” Bang Khalif melirik jenaka padaku. Aku balas melirik dengan raut penasaran.

“Masak iya?”

“Nih lihat.” Ia menunjukkan sebuah foto lama yang sepertinya ia jepret ulang dengan kamera handphone-nya.

Aku memandangi foto itu lamat-lamat. Terlihat seorang anak perempuan kecil berumur sekitar 2 tahun dengan rambut panjang yang dikepang dua, berdiri di samping seorang anak lelaki kecil berumur sekitar 5 tahun. Aku tersenyum saat melihat baju kaus berwarna sama yang dikenakan keduanya. Di baju kaus itu tersablon nama masing-masing. KINKIN di baju gadis kecil itu, dan BIMBIM di baju sang lelaki kecil.

“Dari mana Bang Khalif dapat foto itu?” tanyaku ingin tahu.

“Dari album foto lama milik Ibu di lemari belakang,” jelasnya. Jadi benar yang dikatakan Ayah, keluarga kami dulunya adalah sahabat.

“Ini fotonya yang sekarang.” Bang Khalif lalu menunjukkan sebuah foto lain padaku. Kali ini yang terlihat adalah sosok laki-laki dewasa, yang cukup tampan, tersenyum ke arah kamera memamerkan deretan giginya yang rapi. Melihat latar belakangnya, foto itu bukan dijepret di kawasan negara Indonesia.

“Abang kirim dua foto ini ke WA kamu ya. Supaya malam ini bisa kamu pikir-pikir dulu,” ujar Bang Khalif. “Abang berharap kamu penuhi keinginan Ayah. Mereka dari keluarga baik-baik. Bima juga sudah punya usaha sendiri di Jakarta.”

Aku mengangguk lesu. Pembelaan yang kuharapkan datang dari Bang Khalif sebagaimana biasa, kali ini ia malah mendukung Ayah dan Ibu.

“Abang balik dulu ya, besok kita ngobrol lagi.” Bang Khalif menepuk bahuku saat hendak pamit dan aku pun menyalaminya. Kupandangi ia sampai menghilang ke dalam rumah.

Bunyi notifikasi WA terdengar. Dari Bang Khalif. Kubuka dua buah file foto yang dikirimnya dan kupandangi satu persatu. Malam ini kupastikan akan menjadi malam yang panjang untukku.

Kinara, hidupmu akan berubah dalam waktu dekat. Dan ini tidak seperti yang kau rencanakan sebelumnya.

——–

“Mama ada di kamarnya, Mas.” Mbok Yun menjawab sambil menerima bungkusan plastik dari tanganku. Tadi dalam perjalanan ke Bekasi, aku melihat banyak yang menjual buah naga di pinggir jalan. Mama sangat suka buah ini, dan aku membeli banyak sekaligus.

“Dipotong-potong ya Mbok. Aku juga mau,” ujarku yang dijawab anggukan Mbok Yun.

“Pak Karya dimana, Mbok?” tanyaku karena tidak melihatnya membukakan pintu pagar untukku seperti biasa.

“Si Bapak keluar sebentar. Nyari daun pisang. Besok Mbok Yun pengen bikin lontong untuk sarapan.” Beliau memberikan padaku sepiring buah naga yang siap untuk dilahap. Aku pun beranjak mencari Mama di kamarnya.

Sayup terdengar beliau sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya. Mama duduk di sisi tempat tidur membelakangi pintu. Wajahnya menghadap ke arah jendela yang lebar dan hampir sama tingginya dengan pintu. Kamar tidur Mama sangat luas. Aku ingat dulu sewaktu kecil, aku dan Mentari kerap bermain di kamar ini menjelang tidur. Dan jika Papa mengijinkan, kami pun ikut bergelung dalam selimut diantara mereka berdua. Namun kamar ini terasa sungguh sepi sejak Papa meninggal 5 tahun yang lalu. Sedih rasanya membayangkan Mama harus tidur sendiri di ranjangnya yang cukup besar dengan kapasitas 4 orang dewasa.

Aku berdiri di depan pintu kamar, menunggu beliau selesai menelepon. 30 detik berlalu, namun kelihatannya kali ini Mama sedang dalam pembicaraan serius dengan seseorang. Kuputuskan untuk duduk menonton TV di ruang tengah, namun kuurungkan niat itu saat kudengar Mama menyebutkan namaku dalam kata-katanya.

“Alhamdulillah. Saya tunggu kabar baik dari Ayuk. Jika Kinara setuju, saya dan Bima akan secepatnya ke Jambi.”

Aku mendengarkan dengan penuh konsentrasi. Sepertinya tadi Mama juga menyebutkan nama seseorang.

“Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar. Saya sungguh berharap mereka berdua berjodoh.”

Kalimat itu membuat darahku berdesir. Mama sedang menjodohkanku.

Aku tetap berdiri di depan pintu kamar, menunggu sampai beliau benar-benar selesai. Dan ketika wajah cantik yang terlihat menua itu menoleh ke arahku, sebuah raut terkejut tak dapat beliau sembunyikan. Mama mencoba tersenyum meskipun penuh kaku padaku.

“Bim, kapan datang?” ujar Mama saat aku beranjak mendekat. Aku memang tidak pernah tiba di sini ketika sore, kalau tidak sehabis maghrib pastilah menjelang tengah malam.

“Lagi malas lembur. Enggar juga udah pulang,” sahutku sekenanya sambil menyuapinya potongan kecil buah naga. Pikiranku masih dipenuhi rasa penasaran dengan pembicaraan Mama di telepon barusan.

“Mama tadi ngobrol sama siapa?” tanyaku.

Beliau terlihat gugup saat kutanyakan seperti itu.

“Kawan lama. Mereka tinggal di Jambi.” Mama menjelaskan dengan nada hati-hati.

Aku ingat, Papa dulu pernah bercerita padaku di awal-awal karirnya beliau sempat ditugaskan di Jambi.

“Oh, Om siapa itu yang dulu pernah diceritakan Papa? ” Aku berusaha mengingat sebuah nama.

“Om Syamsul,” Mama bantu menyebutkan. “Tadi Mama bicara dengan istri beliau.”

Mama diam sebentar. Aku juga diam menunggu.

“Bim, Mama berniat mempertemukan kamu kembali dengan seseorang,” ujar Mama setelah beberapa saat. Beliau memandangku ragu-ragu. Menanti tanggapanku atas pernyataannya barusan. Aku berusaha bersikap biasa saat mendengarnya.

“Dengan siapa?” tanyaku pura-pura acuh.

Kulihat senyum Mama merekah. “Dengan Kinara,” ujar beliau.

Dadaku berdetak kencang. Berarti benar. Mama hendak menjodohkanku.

“Kinara itu putri bungsunya Om Syamsul. Dulu ketika masih kecil kalian sering bermain bersama. ” Mama bangkit dari duduknya, kemudian membuka sebuah laci di sudut kamar.

“Bahkan Mama masih menyimpan foto-foto kalian dulu.” Beliau kembali duduk di sampingku membawa sebuah album foto tua, menyerahkan padaku agar aku melihat isinya.

Perlahan kubuka sampul albumnya. Ada tulisan tangan Mama dengan spidol berbeda warna dibaliknya. Biru untuk tulisan ‘Bima’ dan merah untuk tulisan ‘Kinara. Ternyata Mama sengaja membuat satu buah album khusus untuk foto kami berdua.

Aku mulai mengamati satu per satu foto yang merekat di album tersebut. Mulai dari Kinara lahir hingga ia tumbuh menjadi seorang gadis balita cilik yang menggemaskan, aku ada bersamanya di setiap foto. Mama selalu memberikan keterangan di bagian bawah foto juga dengan tulisan tangannya yang rapi. Naluri fotografi-ku jelas menurun dari Mama. Bahkan dengan sebuah kamera film pada jaman itu, beliau mampu membuat foto yang sanggup berbicara hingga saat ini.

Aku meletakkan telunjukku di tiga foto yang dijepret Mama berurutan. Di foto pertama, Kinara dan aku sama-sama memegang es krim. Foto kedua memperlihatkan Kinara yang menangis di depan es krim nya yang jatuh di atas rumput. Pada foto ketiga, Kinara tersenyum ketika aku menyodorkan es krim ku padanya.

“Aku suka foto-foto yang ini. Mama fotografer hebat,” pujiku pada Mama yang tersenyum malu padaku.

“Kalian dulu teman kecil yang akur. Umur kamu dan dan Kinara terpaut 3 tahun. Dan kamu sayang sekali padanya.” Mama menerawang mengingat kembali ke masa yang lalu.

“Benarkah?” aku memandang Mama tak percaya. Mama mengangguk sambil tersenyum lagi. Aku tadinya mengira cuma Malia teman perempuan yang pernah aku kenal.

“Kalau kamu setuju, kita berangkat ke Jambi untuk mempertemukan kalian.” Mama menunjukkan layar handphone-nya ke arahku. “Ini Kinara sekarang. Dia sudah menjelma menjadi gadis yang cantik dan sholeha.”

Terlihat foto seorang wanita berkulit putih memakai kerudung berwarna hijau muda. Matanya indah, tidak besar tidak pula sipit, dengan bulu mata yang panjang. Hidungnya mancung dengan paras wajah sedikit tirus. Tidak ada segores make-up pun terlihat menghiasi wajah polos itu. Ia tidak melihat ke arah kamera. Sepertinya foto itu diambil secara candid oleh seseorang. Senyumnya manis. Siapa pun yang melihat foto itu sekilas, akan berpendapat ia gadis yang cantik.

Aku menekan tombol ‘share’ pada foto itu dan mengirimkannya ke nomor Whatsapp-ku sendiri. “Album fotonya aku pinjam dulu ya.”

Aku bangkit meninggalkan kamar Mama. Bisa kulihat senyum beliau sebelum aku menutup pintu. Mama tidak pernah sebahagia itu semenjak Papa meninggalkan kami. Sepertinya aku harus menanggapi serius rencana pertemuan dengan Kinara dan keluarganya. Namun, ada satu hal yang mesti aku pastikan terlebih dahulu agar hatiku tidak selalu bertanya-tanya.

Malia. Malam ini aku akan berterus terang padamu.

iNTERAKTIVE


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Continue reading

SUARA ARROHMAH

Masjid Arrohmah Tulungagung

Current track
TITLE
ARTIST

Background